Villa Domba Siap Melayani Kebutuhan Domba Qurban Anda! Hubungi Email agusramadas@yahoo.co.id

Sabtu, 07 Maret 2009

BISNIS DOKA POTONG

Sebuah Email masuk dari pembaca setia Blog Domba Garut belum lama ini penulis terima, bertanya seputar bisnis doka potong, domba kambing potong maksudnya yang biasanya guna memenuhi kebutuhan pasar daging konsumsi termasuk kebutuhan aqiqah. Penulis pernah membahasnya pada Blog ini sebenarnya, namun seiring dengan ilmu-ilmu baru yang didapat oleh penulis dari para senior perdombaan dan perkambingan maka semoga jawaban Email ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua, kritik, saran dan masukan sangat penulis harapkan tentunya. Ucapan terimakasih penulis kepada kang Dodon salah satu peternak senior yang banyak memberikan masukan selama ini. Salam Peternak! 

Pak Agus mhn masukanya nih saya ingin usaha trading dan penggemukan kambing / domba di jakarta. Saat ini mo kerjasama dengan sodara, masalah makanan dia bisa cari karena di sekitar kali masih banyak rumput .cuma saya ragu mengenai kesehatan karna saya liat ada yg kena scabies, obatnya apa pak yah , and prospek dan pemasaran kambing bagaimana, strategi apa yang mesti di pakai agar orang pada tahu saya jualan kambing potong.

Semangat yang luar biasa pak! Punten tidak perlu dengan sebutan pak dan cukup kang atau nama saja. Sesuai Email Saya terdahulu, patut dipikirkan bagaimana dengan kenyamanan warga sekitar nantinya jika membuat kandang domba di kawasan pemukiman. Bilamana memang tidak ada keluhan warga sekitar maka kenapa tidak untuk mulai dijalankan. 

Sebagai gambaran untuk Bapak, kondisi tanah di pinggir kali (sungai) biasanya basah dan rumput untuk pakan domba dapat tumbuh subur tanpa harus disiram. Saya pernah melihat peternakan domba di daerah pantura tidak jauh dari Cikampek di mana peternak domba menghijaukan pinggir sungai dengan rumput guna memenuhi kebutuhan pakan ternak. 



Terkait kenyamanan warga, coba berkonsultasi dahulu setidaknya dengan ketua rukun tetangga (RT) setempat, kemudian bila memang skala besar namun di bawah 300 ekor maka sebaiknya mengurus tanda daftar peternakan rakyat dengan dinas peternakan setempat, persyaratannya cukup tanda tangan warga yang tidak berkeberatan dengan usaha peternakan domba yang Bapak jalankan. 

Punten, kasusnya agak unik soalnya di mana peternakan di daerah kota dan Bapak berencana bergerak di trading domba, artinya ada in out ternak yang besar kemungkinan fast moving dan khawatirnya berpotensi mengganggu kenyamanan warga. Disisi lain beternak di tengah kota yang artinya juga semakin mendekat dengan pasar sebagai kondisi yang menguntungkan. Konsumen bisa melihat domba secara langsung dan melakukan seleksi ternak sekaligus pembelian khususnya untuk aqiqah.

Tentang penyakit scabies umumnya lebih menyerang pada ternak kambing pak dibandingkan domba. Tidak perlu panik karena ada obatnya mulai dari skala tradisional sampai dengan obat medis. Namun untuk pemberian obat-obatan medis maka sebaiknya harus sepengetahuan dan seijin dokter hewan ataupun mantri dinas peternakan setempat. Informasi tentang scabies untuk Bapak kiranya dapat KLIK Link berikut ini yang dapat Saya peroleh:

Penanggulangan Penyakit Korengan pada Kambing 

Prospek pemasaran kambing domba di Indonesia adalah potensial menurut pandangan Saya. Mulai dari penyediaan hewan ternak kambing domba untuk kurban yang kebutuhannya selalu naik sepanjang tahun, aqiqah dan kebutuhan konsumsi daging harian (potong). Terkait posisi Bapak yang akan terjun dalam bisnis trading kambing ataupun domba potong bilamana dengan potensi pasar yang ada kemudian ditunjang manajemen dan strategi pemasaran yang baik maka Insya Allah berkembang. Akan tetapi ada beberapa hal yang sebaiknya Bapak mencari informasinya lebih dahulu yaitu:

  • Peternak di daerah mana sebagai sumber pasokan ternak yang akan Bapak beli nantinya untuk dijual? Pastikan betul kemampuan pasokannya kontinyu dan tidak akan kesulitan di tengah perjalanan usaha.
  • Kemudian jenis hewan ternak domba ataupun kambing yang akan dibeli dan sesuaikah dengan segmentasi pasar yang akan Bapak bidik? 
  • Lalu apakah harga beli ternak apabila ditambah biaya versus harga jual nantinya akan memberikan keuntungan? Sebagai gambaran untuk Bapak maka berikut beberapa informasi yang dapat Saya berikan:
Bapak membeli domba untuk digemukkan dengan harga Rp. 650.000,- per ekor misalnya. Domba itu berencana akan digemukkan selama 8 bulan dan akan dijual pada saat kurban nantinya, berat Kg hidup ternak awal adalah 18 Kg asumsinya berusia 5 s.d 6 bulan, dengan kenaikan pertumbuhan berat badan ternak sebesar 2 Kg per bulan minimalnya maka saat pelaksanaan kurban diharapkan berat hidup ternak akan menjadi 36 Kg (18 Kg + (2 Kg x 8 Bulan). 

Saat pemilihan bibit ternak domba untuk penggemukkan maka pilihlah ternak yang memiliki ukuran rangka besar sehingga volume isi akan optimal saat proses penggemukkan. Berbicara potensi kekayaan plasma nuftah Indonesia, domba-domba yang berangka besar ini salah satunya yaitu domba Garut dengan berat yang bisa mencapai di atas 40 Kg. Olehkarenanya sangat disayangkan bilamana Domba Garut dimasukkan ke dalam pasar daging potong harian saat ini walaupun misalnya telah dipelihara di petani dari sejak lahir sehingga biaya pemeliharaannya minim. 

Kami sendiri menempatkan Domba Garut di pasar premium untuk memenuhi kebutuhan daging domba muda organik, aqiqah dan kebutuhan hari raya kurban dikarenakan pertumbuhan berat badannya yang bisa di atas 40 Kg seandainya dipelihara dengan baik. Kasus lain adalah hewan ternak Kambing PE yang memproduksi susu, tentunya sangat disayangkan bilamana Kambing PE yang masih produktif sudah harus masuk pasar daging potong umpamanya. Domba ekor tipis, kambing jawa umumnya yang biasanya dijadikan bahan ternak potong. 

Dari segi volume sejujurnya dasyat pak bilamana kita berbicara pasar daging potong harian ini, seorang pemilik rumah makan sate ternama di negeri ini sungguh berbaik hati menelepon Saya dan menanyakan apakah Kami sanggup untuk memenuhi kebutuhan rumah makannya dengan volume 10 ekor domba per hari atau setara dengan 70 ekor per minggu untuk kebutuhan 1 cabang rumah makannya saja! Syarat utamanya di mana berat hidup ternak paling tidak 20 Kg ke atas. Harga yang ditawarkan oleh beliau adalah Rp. 25.000,- per Kg Hidup atau artinya sama dengan Rp. 625.000,- per ekor bila berat hidupnya 25 Kg.

Alhamdullilah dalam hati Saya, siapa yang tidak senang dengan potensi pendapatan kotor sebesar Rp. 43.750.000,- per minggu hanya dari 1 cabang rumah makan saja! Namun apabila Saya memutuskan untuk terjun ke pasar ini dengan domba Garut maka judulnya mau tidak mau untuk berkata: Domba Garut yang ada pada posisi saat ini ibarat mobil Ferrari di suatu pabrik di mana akan memiliki harga premium dibandingkan jenis mobil lainnya ketika sudah jadi nanti sehingga sangat disayangkan untuk bermain di pasar domba potong dengan pasar fast moving. Trading adalah pilihan terbaik jika hendak bermain pada pasar ini dalam periode penyiapan yang singkat. . 

Bukan karena faktor harga yang tidak masuk sehingga tidak mengambil peluang itu untuk domba Garut? Alhamdullilah bukan, justru sebenarnya dengan konsep kemitraan yang dijalankan bersama petani saat ini maka akan sangat bisa masuk dengan biaya pemeliharaan yang minim, petani yang lihai maka akan mencapai berat badan optimal antara 20 s.d 25 Kg untuk anak domba yang ia pelihara ketika sampai usia 5 s.d 6 bulan, petani pun Alhamdullilah sudah pintar saat ini di mana ia sudah bisa mengetahui di mana akan jauh lebih menguntungkan untuk menjual domba jantannya saat dewasa nanti ketika kurban dibandingkan harus memotongnya cepat-cepat sekarang. 

”Jalu mah ku emang moal dibekeun ka jagal, lebar jeung kurban engke, pek mun bikang ari rek ka jagal mah.” (Domba Garut jantan jangan dibawa ke jagal, sayang untuk kurban, mending yang betina kalau untuk ke jagal) Kembali pada akhirnya menjadikan sektor pembibitan kurang begitu berkembang di negeri ini dengan ditambah permasalahan demand lebih besar daripada supply. Saya pun tidak bisa berbuat banyak karena benar juga apa kata petani, sabar sedikit menunggu kurban daripada memotong cepat-cepat di jagal. Alhamdullilah pula Kami dan mitra tidak melakukan pemotongan domba betina produktif pastinya.



Kembali melanjutkan jenis domba apa yang biasanya dipergunakan untuk pasar potong? Saya pernah bertemu bandar atau pengumpul ternak domba yang menawarkan jenis domba potong kepada Saya dengan harga Rp. 20.000,- per Kg Hidup. Jenis domba tersebut katanya berasal dari daerah pesisir yang apabila dibesarkan sedari usia sapih 5 bulan sampai dengan jangka waktu 1 tahun maka hanya akan mencapai berat optimal 30 Kg an, rangka tubuh domba itu relatif kecil dan berbeda dengan domba Garut dengan rangka yang besar maka volume isi berat semakin optimal. 

Satu keunggulan yang ada dari domba untuk potong ini menurut seseorang itu adalah pola pengembangbiakkan domba di daerah pesisir dengan cara digembalakan sehingga biaya pemeliharaannya pun minimal, namun satu juga kekurangan domba ini dari penjelasan yang Saya dapat adalah disamping pertumbuhan berat badannya yang mentok ke berat optimal 30 Kg an, produksi karkas yang dihasilkan jenis domba ini ternyata adalah rendah sekitar 40% dari berat hidup. Sebagai gambaran untuk Bapak maka berikut informasi yang dapat Saya berikan:

Bilamana Bapak memutuskan membeli domba potong dengan berat hidup 25 Kg misalnya, artinya uang yang harus Bapak keluarkan per 1 ekornya adalah Rp. 500.000,- seandainya harga beli Rp. 20.000,- per Kg hidup. Dengan harga jual domba yaitu Rp. 25.000,- per Kg Hidup maka paling tidak sudah ada gambaran keuntungan kotor di tangan minimal sebesar Rp. 125.000,- per ekor domba dan dikaitkan dengan permintaan rumah makan tadi maka ada potensi laba kotor sebesar Rp. 8.750.000,- per minggu! 

Pertanyaannya semudah itukah proyeksi keuntungan bisnisnya? Sebelum Bapak memulai maka berikut beberapa pos biaya yang sebaiknya diperhitungkan secara cermat terlebih dahulu oleh Bapak sebelum terjun di bisnis trading domba potong:

Biaya transportasi dari lokasi kandang pemasok ke kandang transit kita, biaya pemeliharaan selama domba berada di lokasi kandang kita, ada pula biaya transportasi dari kandang transit kita ke konsumen, biaya kematian ternak dari lokasi kandang pemasok saat dikirimkan ke kandang transit kita dan tidak kalah pentingnya biaya penyusutan berat hidup ternak. 

Sebagai catatan bila ternak domba yang Bapak beli dengan berat 25 Kg di kandang pemasok bukan berarti ketika tiba di kandang Bapak akan memiliki berat yang sama, paling tidak akan terjadi penyusutan berat antara 2 s.d 3 Kg akibat stress selama di perjalanan. Kiranya pos-pos biaya ini yang dapat diperhitungkan secara cermat terlebih dahulu oleh Bapak sebelum memutuskan terjun di bisnis trading domba potong. 

Tampak gambar tabel dibawah kemungkinan perubahan laba kotor dari yang semula harapannya Rp. 8.750.000,- per minggu menjadi Rp. 4.550.000,- per minggu akibat penyusutan berat hidup ternak yang semula beratnya 25 Kg hidup. Penyusutan pertama terjadi manakala ternak dikirimkan ke lokasi kandang kita dari pemasok dari semula 25 Kg menjadi 23 Kg, penyusutan kedua terjadi manakala ternak dikirimkan dari kandang kita ke konsumen, semula 23 Kg menjadi 21 Kg, disinilah pentingnya biaya pemeliharaan ternak di kandang kita untuk recovery ternak agar bisa kembali ke posisi semula 25 Kg atau paling tidak naik menjadi 23 Kg.

Jual domba potong dalam bentuk karkas? Prinsipnya adalah bisa namun tetap diperhitungkan tentunya segala komponen biaya yang mungkin ditimbulkan: Biaya transportasi dari lokasi kandang pemasok ke kandang transit kita, biaya pemeliharaan selama domba berada di lokasi kandang kita, biaya kematian ternak dari lokasi kandang pemasok saat dikirimkan ke kandang transit kita, biaya pemotongan, biaya transportasi dari kandang kita ke konsumen dan tidak kalah pentingnya kembali biaya penyusutan berat hidup ternak.
Bilamana Bapak memutuskan membeli domba potong dengan berat hidup 25 Kg misalnya artinya uang yang harus Bapak keluarkan per 1 ekornya adalah Rp. 500.000,- seandainya harga beli Rp. 20.000,- per Kg hidup. Potensi karkas yang mungkin dapat dihasilkan adalah 40% dari berat hidup yaitu kisaran 10 Kg, diasumsikan harga karkas saat ini Rp. 60.000,- per Kg Hidup maka ada potensi pendapatan dari 1 ekor sebesar Rp. 600.000,-. Dikaitkan dengan permintaan rumah makan tadi maka ada potensi laba kotor sebesar Rp. 7.000.000,- per minggu, pertanyaan semudah itukah proyeksi keuntungan bisnisnya?

Sebelum memulai maka kiranya pos-pos biaya di atas dapat diperhitungkan secara cermat terlebih dahulu oleh Bapak sebelum memutuskan terjun di bisnis trading domba potong ini. Tampak gambar tabel di bawah perubahan keuntungan kotor yang sudah pasti terjadi seandainya berat ternak hidup dari kandang pemasok manakala tiba di kandang kita berubah dari 25 Kg menjadi 23 Kg.


Beberapa saran dan masukan lainnya yang kiranya bisa Saya sampaikan dari pengalaman beberapa senior dunia perdombaan dan perkambingan untuk bermain di bisnis trading domba potong:

Ajukan persyaratan kepada pemasok ternak domba agar penentuan harga per ekor ternak adalah berdasarkan timbang hidup manakala ternak tiba di lokasi kandang Bapak dan bukan di lokasi kandang pemasok. Terhadap konsumen pun sebaiknya berlaku hal yang demikian sehingga sama-sama adil tentunya. Atau bisa jadi kebalikannya, ternak ditimbang di kandang pemasok dan begitu pula ternak ditimbang di kandang kita sebelum dikirim ke konsumen.

Bermain di domba potong jujur sebenarnya menghasilkan margin yang tidak terlalu besar dibandingkan sabar menunggu menjelang kurban bilamana setelah diperhitungkan pos-pos biaya yang ada khususnya biaya transportasi dan resiko kematian ternak selama perjalanan, olehkarenanya perlu perhitungan yang cermat agar berharap untung tidak jadi buntung.

Bermain di domba potong adalah bermain di putaran volume dan repeat order untuk keuntungan optimal sehingga kelancaran cash flow menjadi syarat mutlak, olehkarenanya teliti betul bagaimana kredibilitas konsumen dan sebisa mungkin hindari pembayaran dengan cara kredit terkecuali kita kenal betul dengan konsumen yang membeli produk ternak kita.

Jajaki potensi usaha dibidang hilir ternak domba potong, tidak hanya sekedar menjual hidup ataupun karkas, bila memiliki modal maka kenapa tidak mulai membuka usaha warung sate misalnya. Sebagai gambaran bilamana 1 Kg Karkas Daging Domba dapat menghasilkan 50 tusuk sate ukuran jumbo, punten, sate yang kebanyakan beredar sekarang ini ukurannya medium bahkan ada yang small, dan bila 1 ekor berat hidup ternak 23 Kg menghasilkan 9 Kg karkas maka ada potensi menghasilkan 460 tusuk sate. 1 Porsi berisikan 10 tusuk sate maka akan dihasilkan 46 porsi sate, bila harga 1 porsi yaitu Rp. 15.000,- maka ada potensi pendapatan sebesar Rp. 690.000,-, jauh lebih besar dari hanya sekedar menjual karkas.

Mulai concern pada kegiatan pembibitan ternak pak bilamana berpikir usaha jangka panjang. Kita tidak bisa terus menerus mengandalkan pasokan ternak dari sumber luar, andaikan punya modal maka beli induk domba betina dengan kemampuan produksi karkas terbaik di kelasnya seperti domba Garut misalnya, mohon maaf promosi. Kemudian mitrakan induk domba Garut betina tersebut kepada petani desa sehingga biaya pemeliharaan pun minimal, seperti yang Saya sampaikan pada uraian di atas, petani yang lihai maka akan mencapai berat badan optimal antara 20 s.d 25 Kg untuk anak domba yang ia pelihara ketika sampai usia 5 s.d 6 bulan, dengan sistem bagi hasil maka bila harga anak Domba Garut usia 5 s.d 6 bulan adalah Rp. 650.000,- di mana kita cukup membayarkan hak petani sebesar Rp. 325.000,-. Selanjutnya terserah kita apakah anak domba akan digemukkan untuk pasar kurban, ataukah dijual ke peternak penggemukkan atau mungkin masuk ke restoran yang sudah kita miliki. Amin. Peternak sejati adalah seorang breeder dan bukan hanya sekedar trader.



Terkait pertanyaan Bapak selanjutnya tentang strategi apa yang harus dipakai agar orang tahu bila kita berjualan domba potong? Wah, kalau pertanyaannya seperti ini agak bingung juga Saya menjawabnya pak. Tapi sebagaimana layaknya orang dagang maka pastinya Kita harus menawarkan dagangan tersebut kepada objek yang kita inginkan. Banyak sarana media yang dapat digunakan pastinya. Mulai dari pembuatan brosur, iklan di majalah ataupun mungkin dengan kecanggihan teknologi internet  saat ini. Mulai dari yang berbiaya rendah hingga berbiaya luar biasa. Tampak gambar di atas adalah sebuah cara promosi yang dilakukan oleh salah satu penyedia layanan aqiqah di Jakarta, brosur tentang aqiqah dititipkan pada counter administasi pada sebuah rumah sakit tepatnya di ruang bersalin. Demikian kiranya Email dari Saya pak dan semoga dapat memberikan manfaat. Saran, kritik dan masukan sangatlah diharapkan. Salam Peternak dan Majulah Usaha Ternak Indonesia!

Posting Blog Lawas
Tentang Bisnis Domba Potong

Peluang usaha kebab daging kambing? 

Tamma Food adalah distributor daging kebab yang bisa memasok ke seluruh wilayah Indonesia. Mulai dari kebab daging kambing, sapi bahkan ayam sekalipun. Tamma Food juga menyediakan paket rombong bagi yang tertarik memulai usaha daging kebab. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Saran, Kritikan dan Masukan Anda diperlukan untuk Kemajuan Usaha Ternak Indonesia