FAIR TRADE ANGKAT NASIB PETANI
Oleh. Adam Pamma
MEKANISME pasar dalam penentuan harga komoditas pertanian dinilai sangat tidak adil. Petani sering menjadi pihak yang tidak berdaya dan dirugikan. Di kala harga komoditas melonjak, petani tidak memperoleh keuntungan yang wajar. Sebaliknya, saat harga jatuh, petanilah pihak pertama yang harus menanggung kerugian. Hal ini diperparah oleh adanya aksi spekulan yang berusaha mengeruk keuntungan sebesar-besarnya tanpa mempedulikan kesejahteraan petani. Tak pelak lagi, praktik seperti ini secara perlahan telah menyebabkan kemelaratan dan kebodohan petani yang umumnya tidak memiliki jaringan pemasaran.
Kondisi ini rupanya telah memicu keprihatian di kalangan LSM dan organisasi non-profit lainnya. Sebagai bentuk nyata pembelaan mereka terhadap petani, maka dibentuklah sebuah sertifikasi yang dinamakan Fair Trade. Sertifikat ini diberikan oleh organisasi independen (FLO: Fair Trade Labeling Organization) kepada distributor atau pedagang yang dinilai ikut berkontribusi terhadap peningkatan taraf hidup produsen serta pengembangan komoditi agrobisnis secara berkesinambungan. Diharapkan dengan adanya proses pemantauan pihak ketiga melalui sertifikasi, kemitraan dagang yang dilandasi semangat keterbukaan dan keadilan dapat terwujud.
Association Indonesien Professional Sciences and Enterprises (AIPSE), sebagai wadah bagi profesional Indonesia di Jerman, merasa terpanggil untuk mensosialisasikan sertifikasi yang belum banyak dikenal oleh masyarakat tersebut. Memanfaatkan momentum peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional baru-baru ini APISE bekerjasama dengan KJRI Frankfurt menyelenggarakan workshop yang bertajuk Fair Trade & European Market Penetration Strategies.
Dalam workshop ini, AIPSE menampilkan pakar fair trade, yaitu Friedrun Sachs (dari Naturland International), Johannes Schwegler (Direktur Swisscontact Germany GmbH) dan Mr Xavier Huchet (dari Fair Trade e.V). Friedrun Sachs memaparkan aktivitas dan kompetensi Naturland, seperti proses sertifikasi produk organik dan program pelatihan untuk 47.000 petani di 32 negara. Naturland merupakan salah satu organisasi pertanian organik terbesar di Jerman yang sudah menerapkan kerjasama dagang sesuai dengan prinsip fair trade.
Pada sesi kedua, Johannes Schwegler berbagi pengalaman tentang keberhasilannya membina petani jambu mete di Flores. Sebagai organisasi non-profit yang berusia 49 tahun, Swisscontact merupakan kini memiliki cabang di 25 negara, termasuk di Indonesia. Salah satu proyek sukses yang digarap oleh organisasi ini adalah LED-NTT (Local Economy Development - Nusa Tenggara Timur), di Ende, Flores, dengan keberhasilannya mempromosikan jambu mete dari Flores ke pasar Eropa.
Di hadapan peserta workshop, pria yang fasih berbahasa Indonesia ini menceritakan berbagai kendala saat memulai proyek. Di antaranya adalah infrastruktur yang tidak memadai, volume produksi yang fluktuatif, serta kualitas komoditas yang tidak merata. Untuk mengatasi berbagai masalah itu, Swisscontact menggandeng pemerindah daerah untuk mengadakan pembinaan dan pelatihan petani. Dalam pelatihan tersebut, petani dibekali berbagai pengetahuan tentang pertanian modern dan kewirausahaan. Di sanalah kali pertama fair trade di perkenalkan kepada petani di Flores. Kerja keras ini membuat petani Flores kini mampu memproduksi 3,2 ton jambu mete perbulan dengan kualitas ekspor. Bahkan 700 petani di antaranya sudah memperoleh sertifikasi IMO. Selain untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, jambu mete telah diekspor ke Amerika Serikat dan Eropa. Kni program serupa diterapkan untuk komoditi coklat.
Xavier Huchet tampil di sesi ketiga membahas berbagai aturan dalam fair trade melalui berbagai contoh proyek yang selama di tangani oleh Fair Trade e.V. Xavier menyebutkan bahwa distributor produk kopi yang sudah memegang sertifikat fair trade diwajibkan menyetorkan US$ 200 kepada petani untuk setiap penjualan 1 ton kopi. Di bawah pengawasan pihak ketiga, uang tersebut harus dimanfaatkan untuk pengembangan komoditi kopi selanjutnya, sehingga diharapkan ada peningkatan kesejahteraan para petani. Hingga kini sudah ada 20 negara yang berafiliansi dengan FLO. Selain itu, tercatat 1.500 produk dari 55 negara di dunia telah mendapat sertifikasi fair trade. Diperkirakan, sebanyak 1,5 juta petani mendapat keuntungan langsung dari sertifikasi ini dan 7,5 juta keluarga memperoleh keuntungan secara tidak langsung. Di Indonesia sendiri tercatat ada 40 organisasi yang memiliki hubungan dengan FLO per Juni 2008. Sepuluh di antaranya telah memegang sertifikat FLO sedangkan 30 lainnya dalam proses pengajuan. Komoditas yang didaftarkan meliputi kopi, coklat, vanili dan mente. Dalam kesimpulannya, Xavier menegaskan kembali tentang manfaat fair trade bagi masyarakat di negara berkembang khususnya petani. [P1] Penulis adalah PR Manager Association Indonesien Professional Sciences and Enterprises (AIPSE), Bonn, Jerman
Tampak gambar di atas adalah sewaktu kedatangan Xavier Huchet ke lokasi perkebunan organik dan peternakan Villa Domba pada tahun lalu. Kagum penulis terhadap dirinya di mana dengan usia yang jauh lebih muda dibandingkan penulis namun telah banyak berbuat untuk memajukan nasib para petani! Bravo to Xavier Huchet! KLIK FLO Web: http://www.fairtrade.net/, Indonesia, Bisa ! ! ! !





0 komentar:
Poskan Komentar