SEMARAK DFK VD

SEMARAK DFK VD
Silahkan KLIK Gambar Di Atas
MITRA USAHA& PENYEDIA KEBUTUHAN TERNAK ANDA
Sarana Informasi Resmi PT. Villa Domba Niaga Indonesia, SMS HP. 0815.941.3826/0856.779.8001, Email. agusramadas@yahoo.co.id, Salam Petani& Peternak Indonesia!

Minggu, 08 Juni 2008

SANG PENGGAGAS VD

Bp. Suhadi Sukama – Penggagas Villa Domba.
Ayah, Guru, Senior, Rekan Kerja, Sahabat dan Teman Diskusi Bagi Penulis.

Villa domba, bukan nama pemberian kami, tapi asli diberi dari penduduk desa, tempat kami tinggal........ karena alasan adanya bangunan kandang domba dikebun. Mulanya agak kecut,.........lama lama jadi terbiasa dan senang mendengar sebutan tersebut.......Alhamdullilah pada akhirnya kebun dan peternakan kami dapat nama gratis dari penduduk sekitar...........Villa Domba. Peternakan domba,sejujurnya dikembangkan karena by accident , yaitu pada saat kami memerlukan pupuk dalam jumlah besar untuk menghijaukan lahan kritis pada lereng bukit di desa jatisari kecamatan Cangkuang Banjaran kabupaten Bandung. Masya Allah, ternyata kebutuhan pupuk kandang per hektar saat itu, sekitar 5 ton atau Rp 7.5 juta per hektar, kenapa pupuknya harus beli ya..........




Siapapun, terutama bagi para pegawai. baik negeri ataupun diswasta pada saatnya akan memasuki masa purna bakti,atau masa pensiun. Lalu kita kemana, dan akan berbuat apa? Apa cukup hanya dengan berleha leha menikmati masa pensiun (Apa bisa?), atau kita perlu berbuat sesuatu yang setidaknya punya peluang untuk mempunyai kesibukan dan uang lelah hasil keringat sendiri....., kami lebih memilih kegiatan tersebut daripada yang lain, kegiatannya membuat kita sehat sambil bahu membahu dengan masyarakat desa menggerakan ekonomi kerakyatan .


Berkebun dan berternak, untuk rakyat Indonesia menurut kami adalah pilihan cocok karena didukung oleh sumber daya alam yang begitu berlimpah (subur, sumber air, hijauan, rumput dll) dan merupakan anugrah luar biasa dari Allah SWT kepada bangsa Indonesia. Kenapa tidak kita manfaatkan? Suatu pilihan salah bila tempat berternak terjadi di Arab Saudi, berkebun di Israel tapi kenyataannya hal itu ada, kenapa kita tidak segera memulai berkebun dan berternak pada tempat dan kondisi yang jauh lebih baik dibanding mereka ? ? ? Indonesia ! ! !


Yang paling lama dan harus dipikirkan dalam dalam adalah menjatuhkan pilihan jenis komoditas. Komoditas yang sederhana dan mudah dikembangkan akan sering ditiru sehingga pada saat bersaing kadangkala merugikan pemain pemula. Komoditas yang terlalu sulit dan rumit umumnya aman untuk ditiru tetapi pemain lama yang jauh berpengalaman telah menekuni bidang ini sehingga biasanya kita kalah langkah. Modal, resiko bisnis dan keakhlian perlu menjadi dasar pertimbangan untuk pilihan komoditas . Itulah konsep kami, pilihannya pada produk moderat.........., ada aplikasi teknologi dan kebutuhan dana, tapi tidak terlalu besar.


Sebelum pemilihan jenis komoditas, seperti telah dijelaskan diatas, ada beberapa hal yang harus kami masukan sebagai dasar pertimbangan , antara lain sebagai berikut: Dana tersedia, tidak menggunakan dana luar baik berupa pinjaman ataupun partisipasi pihak lain ( low cost & sole risk). Mampu bertahan lama, bukan jenis komoditas yang mengikuti trend dan musiman serta dibutuhkan banyak orang ,atau industri (kebutuhan primer). Menggunakan teknologi tepat guna, tidak rumit sehingga mampu dikerjakan sendiri, atau oleh profesional madya (low risk). Produksi dipanen tidak terlalu lama, dapat dipanen tiap tahun (cash flow). Harga dikonsumen stabil, tidak dikendalikan oleh konsumen (seller driven). Pasar terbuka lebar, produk dihargai secara wajar (direct selling). Usaha dapat diteruskan kegenerasi penerus, bahkan jangka panjangnya justru akan dinikmati oleh generasi penerus (sustainable business)



Mengenai usaha peternakan, awalnya adalah hanya sekedar memenuhi kebutuhan pupuk kandang untuk kebun sendiri. Sistem tumpang sari mengharuskan pasokan pupuk ketanaman harus prima dan banyak. Kebutuhan pupuk per hektar/tahun, hampir 30 ton atau setara dengan Rp 45 juta/tahun untuk tiap hektarnya bila pupuk dibeli. Kami pilih domba Garut sebagai sumber pupuk dengan pertimbangan domba Garut memiliki nilai tambah dibanding jenis domba lainnya karena : Harga jual lebih premium, laku dijual terutama untuk masyarakat Jawa barat, serta merupakan kebanggaan nasional yang perlu dilestarikan. Untuk diketahui, domba Garut termasuk domba unggul kelas dunia. Dengan memelihara ternak maka kami mendapatkan pupuk kebun gratis dan lebih penting lagi adalah kebun kami menjadi perkebunan organik. Suatu nilai tambah yang sangat diminati konsumen. Karena kebun dan ternak digabungkan maka konsep ini sekarang dikenal dengan sebutan integrated farming system. Kegiatan kebun kami sama sekali tidak menggunakan obat & pupuk kimia sehingga kami sejak awal telah mengarah kepada pertanian organik.



Kembali kepada pokok bahasan, tulisan ini merupakan pengalaman pribadi saat kami memutuskan mengembangkan agrobisnis sebagai persiapan purna bakti sekaligus potret hasilnya sekarang setelah hampir enam tahun kami lalui . Biaya yang telah kami keluarkan, 50 % untuk investasi lahan, 30 % untuk infra struktur kebun dan sisanya adalah untuk investasi bibit. Biaya investasi dikeluarkan secara bertahap, dengan demikian kita perlu membuat master plan dengan tahapan waktu pelaksanaan yang jelas dan konsisten, sehingga aspek biaya sudah terencana dan terukur dengan baik.



Beberapa fakta tidak terbantahkan : Investasi tanah akan mengalami apresiasi kedepannya dan rencana jangka panjang (penanaman tanaman keras),walau mungkin kita tidak bisa menikmati, tapi anak cucu kita akan berterima kasih dan menghargai upaya kita tersebut. Penanaman kayu sengon saja, bila per hektar kita tanami 2000 pohon (harga bibit, Rp 600 per pohon), setelah lima tahun akan menghasilkan sedikitnya 4000 m3 kayu. Bila harga per m3, Rp 1 juta..........., pendapatan kotor mencapai Rp 4 Milyar. Beberapa catatan penting sebagai tip penutup masalah agro bisnis adalah sebagai berikut:



Jadikan bisnis ini sebagai bagian dari bisnis kerakyatan: Penciptaan lapangan melalui pengangkatan pegawai, jual beli ternak, rumput, garapan lahan dll menjadikan bisnis kita sebagai Sarana Ibadah dan Corporate Social Responsibilty.



Pengelolaan secara modern, berorientasi pasar akan mengangkat citra petani Indonesia sejajar dengan petani Thailand, Malaysia dan Viet Nam yang saat ini menuju klas dunia .



Petani, harus mempunyai ketekunan dan kesabaran. Saat ini kondisi petani sudah banyak yang kapok sehingga lebih memilih profesi buruh dikota. Justru ini peluang untuk mengajak mereka menjadi petani tangguh penuh harapan.



Kondisikan kebun tidak eksklusif, penduduk desa bukan musuh kita yang harus dicurigai, malah mereka adalah calon patner kita walaupun kita perlu membinanya terlebih dahulu.



Jangan menilai bisnis kerakyatan ini hanya dengan indikator indikator keekonomian semata, karena pola pikir kita bukan ingin jadi milyader tetapi bagaimana mengisi waktu setelah purna bakti jadi lebih bermamfaat.



Jangan segan untuk belajar, agrobisnis adalah bisnis serius perlu ketekunan dan inovasi baru agar tidak ditinggalkan pasar.



Perlu terjun langsung, libatkan keluarga dan profesional agar lebih intensif. Kegagalan masyarakat kota dibidang agrobisnis karena pengendalian dilaksanakan hanya dari jarak jauh. Tidak effektif dan sangat rawan.



Jadikan seluruh pegawai kebun menjadi tenaga terampil, akhli dan loyal. Ikutkan mereka mengikuti kursus kursus dan pelatihan yang menunjang kegiatan kebun.



Bp. Suhadi Sukama
Penggagas Villa Domba

1 komentar:

domba garut mengatakan...

Salam Sejahtera
Bp. Suhadi Sukarna

Terima kasih atas segala info yang di berikan di blog bapak. Saya sangat terkesan dan tertarik dengan dengan semua ide-ide bapak. Saya seorang warga garut nama saya alfiana saya juga sedang merintis usaha domba Garut, saya dengan orang tua saya sudah beternak domba garut selama 5 tahun tetapi belum bisa sebesar yang bapak miliki. Sekarang saya sudah memiliki sekitar 16 bibit domba garut, dan 3 pejantan. saya ingin belajar memulai bisnis domba garut dari bapak karena selama ini kita hanya menjual domba saja tanpa bermitra dengan warga sekitar. Saya ingin belajar perhitungan tentang bisnis domba garut dan cara menjalin kerjasama dengan warga sekitar.