Blog Informasi Ternak Domba Garut,Cara Beternak Domba,Komunitas Dan Produk Hilir Usaha Kambing Domba

Minggu, 20 April 2008

TENTANG DOMBA GARUT

Toko Buku Online
Ketika penulis sedang men search data terkait Domba Garut belum lama ini, sebuah blog menarik diperoleh dan menyajikan banyak informasi bermanfaat terkait Domba Garut khususnya Seni Ketangkasan dan budaya Indonesia, http://uun-halimah.blogspot.com/2008. Berikut beberapa informasi yang penulis peroleh:

Adu Domba, sekarang lebih tepat disebut Seni Ketangkasan

Adu Domba, ngadu domba, munculnya permainan ngadu domba belum diketahui secara pasti. Namun apabila didasarkan pada rangkaian peristiwa asal-usul domba aduan yang konon berasal dari Kampung Cibuluh, Garut, diperkirakan permainan ngadu domba dimulai sekitar tahun 1931-1932. Waktu itu penyelenggaraan dilaksanakan di lapangan Bunisari yang terletak di Kampung Cibuluh. Selang beberapa lama, pindah ke lapangan Babakan kemudian ke sebuah lapangan yang sekarang menjadi lapangan Kostrad. Istilah ngadu domba merupakan sebuatan masyarakat umum, sedangkan di kalangan penggemar domba aduan sendiri dahulu dikenal istilah lain, yaitu ngaben dan pamidangan. Kata ngaben berasal dari kata aben yang artinya “adu”. Kata tersebut mengalami proses nasalisasi menjadi “ngaben” yang artinya sama dengan kata “ngadu”. Karena pada praktiknya ngaben cenderung mengarah pada “perjudian” yang sering menimbulkan perkelahian antarpemilik ataupun penonton, maka nama tersebut diubah menjadi pamidangan yang berasal dari kata “pidang” artinya “tampil”. Kemudian kata tersebut mendapat sisipan “am” menjadi pamidangan yang bermakna tempat. Jadi, pamidangan berarti “menampilkan” atau “tempat penampilan”. Istilah tersebut dipakai hingga sekarang. Istilah pamidangan cenderung ke arah bisnis sebab permainan ini semata-mata dilakukan untuk mempromosikan dan meningkatkan harga jual domba aduan sehingga penjualan domba tidak berdasarkan besar-kecilnya domba, namun ditentukan oleh nilai-nilai keindahan domba, baik tanduk, bulu maupun keindahan gerak otonya saat bertanding.


Kendang Pencak

Di samping lapangan dan kelengkapannya, dalam permainan ngadu domba digunakan pula seperangkat tatabuhan (waditra) yang menjadi ciri khasnya. Kelengkapan tersebut berupa peralatan kesenian kendang penca untuk mengiringi permainan. Kendang Penca merupakan salah satu jenis kesenian tradisional di Jawa Barat yang hingga kini masih digemari oleh masyarakat pedesaan. Penyebarannya hampir di semua kabupaten di Jawa Barat, seperti Kabupaten Ciamis, Sumedang, Tasikmalaya, Subang, Cianjur, Sukabumi, Serang, Tanggerang, Pandeglang, Karawang, Kuningan, Majalengka, Cirebon, Bandung, Bogor, Bekasi, dan Garut. Pada mulanya, Kendang Penca berfungsi sebagai pengiring pada seni beladiri pencak silat. Pada perkembangannya, Kendang Penca digunakan pula sebagai pengiring dalam permainan rakyat ngadu domba dengan jenis-jenis pukulan kendang seperti yang berlaku dalam pencak silat. Keterlibatan jenis kesenian ini dalam penyelenggaraan permainan ngadu domba memiliki latar belakang historis, yaitu mungkin karena dahulu yang membawa dan mempertandingkan domba sebagian besar adalah para pesilat dan jawara. Dilihat dari segi lain, sifat dan isi permainan yang diiringinya tidak jauh berbeda dengan pencak silat, hanya pelakunya yang berlainan, yaitu domba. Di samping itu, pertarungan tersebut akan lebih hidup apabila diiringi Kendang Penca dan karena permainan ini merupakan hiburan, maka Kendang Penca tetap dipakai untuk menyemarakkan suasana dalam permainan. Sebenarnya, waditra dalam Kendang Penca tidak hanya kendang saja, tetapi masih terdapat yang lainnya. Mungkin karena fungsinya yang paling dominan di antara waditra lain, maka kesenian ini dinamakan Kendang Penca. Waditra selengkapnya di dalam Kendang Penca terdiri atas: dua buah kendang, dua buah kulanter (kendang kecil), sebuah tarompet, dan sebuah goong kecil (kempul atau bende).



Tentang Domba Garut

Konon menurut cerita, orang pertama yang telah berhasil mengembangkan domba-domba berkualitas baik untuk pamidangan di Garut adalah Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa dengan teman seperguruannya yang bernama H. Soleh. Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa, seorang Bupati Garut yang telah memimpin pada periode 1915-1929, mempunyai kegemaran berburu dan memelihara domba. H. Soleh yang tinggal di Cibuluh juga gemar memelihara domba. Saat itu perkampungan Cibuluh belum padat seperti sekarang ini, serta keadaan sekitarnya masih berupa hutan belantara.

Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa sering berkunjung ke sana, selain untuk berburu juga mengunjungi sahabatnya itu. Dalam tiap kunjungannya, beliau memperhatikan pula cara sahabatnya menangani domba-domba peliharaannya, mulai dari pengandangan, pemberian makanan sampai pemilihan bibit. Adapun cara pemeliharaan yang dilakukan oleh H. Soleh saat itu dinilainya kurang baik. Misalnya, domba jantan dan betina ditempatkan dalam satu kandang, pemberian makanan (rumput) hanya pada saat digembalakan, dan tidak ada seleksi dalam mengawinkan domba.

Pada suatu hari, ketika sedang mengunjungi H. Soleh, Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa melihat seekor domba betina bertanduk lebih bagus dibandingkan dengan yang lainnya. Ketika mengetahui bahwa domba yang akan meneruskan keturunannya adalah domba jantan biasa seperti pada umumnya, Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa yang kebetulan memiliki domba jantan bernama Si Dewa, mengusulkan domba H. Soleh yang dipanggil Si Lenjang dikawinkan dengan Si Dewa. Ide ini muncul mengingat Si Dewa memiliki nilai lebih daripada domba-domba Cibuluh, maka dianggap dapat meneruskan keturunan yang lebih baik. Disamping itu, dengan mengawinkannya dengan Si Dewa, kelebihan Si Lenjang dapat berkelanjutan pada keturunannya.

Selanjutnya, Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa membawa Si Dewa ke Kampung Cibuluh untuk dikawinkan dengan Si Lenjang. Beberapa bulan kemudian, lahir domba jantan dan betina. Domba jantan diberi nama Si Toblo, sedangkan yang betina tidak diberi nama. Selain itu dengan Si Lenjang, Si Dewa dikawinkan pula dengan domba betina lain sehingga keturunannya bertambah banyak. Ketertarikan masyarakat akan kegagahan dan kelincahan domba sejak adanya Si Dewa, telah memotivasi para penggemar domba untuk mengadakan hiburan rakyat berupa pertandingan domba yang disebut Ngaben, baik di Cibuluh-Garut maupun di Sumedang.

Khusus di Cibuluh, pernah diabenkan anak Si Dewa melawan anak Si Toblo dari Sumedang yang telah dibeli oleh seorang peternak Cibuluh. Kekuatan mereka seimbang sehingga tidak ada yang menang atau kalah. Hal ini tentu saja mengundang rasa penasaran para penggemar domba adu. Di antaranya, di Bunisari ada seorang bernama Aki Intasik yang ingin memiliki domba untuk menandingi kedua domba tersebut. Caranya dengan membeli Si Toblo dari Sumedang dan mengawinkannya dengan domba betina miliknya yang dipercayakan pemeliharaannya kepada orang lain, yaitu Mang Atori di Cimanyar. Usahanya tersebut tidak sia-sia karena dari perkawinan tersebut lahir dua pejantan, yaitu Si Joki dan Si Jonas. Sebelum dibawa pulang oleh Aki Intasik, Si Jonas dipertahankan oleh Mang Atori karena merasa berhak atas domba tersebut yang telah dipeliharanya. Namun akhirnya, Si Jonas dibeli oleh Aki Intasik. Meskipun kedua domba tersebut secara fisik memenuhi syarat sebagai domba aduan, ada kelebihan lain pada Si Joki, yaitu memiliki tanduk “cerah”. Hal ini membuat Si Joki dijual ke Cikeris/Cikandang untuk dikembangbiakkan. Namun sebelum dijual, baik Si Joki maupun Si jonas, dikawinkan dengan domba-domba betina setempat (Bunisari) sampai beranak-pinak. Seperti halnya induknya, keturunan Si Joki dan Si Jonas, memiliki kehebatan luar biasa sebagai domba aduan.

Baik keturunan Si Joki dari Cikeris maupun keturunan Si Toblo dari Sumedang, semuanya diakui sebagai domba Garut karena bibitnya berasal dari Cibuluh. Mereka merupakan potensi domba adu di Kabupaten Garut yang telah turut mengangkat permainan rakyat khas Jawa Barat ini tidak saja ke tingkat provinsi, tetapi juga ke tingkat nasional melalui kontes-kontes sejak tahun 1985 di Cikeris hingga sekarang. Sebagai hewan yang dipersiapkan untuk bertanding, domba aduan memiliki kelebihan khusus dibandingkan dengan domba biasa. Hal ini berkat adanya kecakapan dalam pemeliharaan dan pemilihan bibit yang pada umumnya diperoleh secara turun-temurun. Untuk menentukan domba yang akan dijadikan sebagai hewan adu, terlebih dahulu harus mengetahui berbagai persyaratannya, meliputi keadaan fisik, pemeliharaan, dan pantangan-pantangannya.

Silahkan KLIK Blog dibawah ini untuk informasi lebih lanjut:
http://uun-halimah.blogspot.com/2008/04/ngadu-domba-jawa-barat.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Saran, Kritikan dan Masukan Anda diperlukan untuk Kemajuan Usaha Ternak Indonesia