Blog Informasi Ternak Domba Garut,Cara Beternak Domba,Komunitas Dan Produk Hilir Usaha Kambing Domba

Senin, 24 Maret 2008

INSPIRASI : KAMBING SABURAI

Minggu, 16 Maret 2008, LAMPUNG POST
Berharap Inseminator Diperhatikan

Masro Haryono. Pelopor Inseminator Inseminasi Buatan (IB) Ternak di Tanggamus. NAMA Masro Haryono sudah ngetop di seantero peternak di Tanggamus. Bahkan ia dijuluki sebagai Bapak Kambing Boerawa. Predikat itu diperolehnya setelah sukses menghasilkan jenis kambing boerawa, hasil persilangan antara induk betina PE (peranakan ettawa) dan pejantan unggul boer dengan cara kawin suntik atau inseminasi buatan (IB). Jenis kambing boerawa itu pertama kali lahir dan dikembangkan di kalangan peternak pada tahun 2002 oleh Kelompok Sumber Rejeki, Pekon Campang, Kecamatan Gisting. Keberhasilan penyilangan kambing Boer yang didatangkan dari Australia pada 2001 dengan kambing PE di Lampung merupakan prestasi karena pada persilangan sebelumnya pada 1986 di Sumatera Utara dan pada 1989 di Sulawesi Selatan mengalami kegagalan.
Nama Kabupaten Tanggamus pun melambung, sebagai sentra kambing boerawa, yang terpusat di Kecamatan Talang Padang, Sumberrejo, Gunung Alip, dan Kotaagung Timur. Slogan "Tanggamus Bumi Boerawa" begitu yang diberikan Gubernur Lampung, Juli, tahun lalu. Kemudian, oleh Gubernur Sjachroedin Z.P. boerawa diganti dengan nama kambing saburai, agar mudah memasyarakat di Lampung. Keunggulan ini dilirik beberapa provinsi seperti DI Yogyakarta, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat, untuk belajar langsung. Pengembangan kambing boerawa (saburai) di Kabupaten Tanggamus mendapat dukungan pemerintah setempat. Jika tahun 2004 kambing boerawa di Tanggamus baru 400 ekor, pada tahun 2005 menjadi 900 ekor, tahun 2006 menjadi 2.074 ekor, dan 2007 sebanyak 3.500 ekor.

Seiring dengan semakin berkembangnya kambing saburai di Tanggamus, petani ternak dan kalangan peternakan pun tak dapat melupakan sosok Masro. Lulusan Sekolah Teknik Negeri (STN) Tanjungkarang ini memperoleh lima penghargaan tingkat provinsi hingga nasional, di antaranya penghargaan dari Menteri Pertanian RI atas pelayanan berkualitas dalam pemberdayaan petani demi ketahanan pangan di wilayahnya, tahun 2004.

Di Pos Pengembangan IB Gisting, Kamis (13-3), kepada Lampung Post Masro yang mengenakan seragam inseminator, menunjukkan kambing boer dan kambing lokal, termasuk kambing saburai. Pria kelahiran Tegal, 2 Maret 1942 ini pun mempratekkan cara menyuntik. Tangan rentanya terlihat masih cekatan mengambil semen beku atau sperma beku lalu dimasukkan ke alat suntik, lalu dengan dibantu inseminator lainnya, Masro memasukkan bibit pejantan boer itu ke dalam kelamin induk betina lokal. "Pejantan, jika kawin alami, hanya dapat membuahi satu betina, dan kemudian lahir duaq kambing. Tetapi dengan IB, sekali mengambil maninya, bibit itu dapat disuntikkan untuk 25 induk betina, sehingga nanti dapat lahir 50 anak kambing," papar Masro yang telah bertugas selama 26 tahun.

Di usia 66 tahun, pengabdi negara ini, masih berstatus pegawai honorer, yang harus cukup dengan Rp400 ribu per bulan. Padahal, tugasnya tak semata sebagai inseminator, dia juga dikenal sebagai mantri hewan, yang dipercaya masyarakat mengobati ternaknya kala sakit. Kini, ia pun sebagai vaksinator unggas agar terhindar dari virus avian influenza (AI). Kepada wartawan Lampung Post Dwi Wahyu Handayani, Sayuti, dan fotografer Zainuddin, di kediamannya Gisting, Kamis (13-3), Masro mengungkapkan pengalaman dan suka dukanya, selama menjadi inseminator. Demikian petikan wawancaranya.

Bagaimana awalnya Anda bisa menjadi inseminator? Saya kebetulan memiliki teman yang bekerja di Dinas Peternakan Provinsi. Ia tanya ke saya, lagi kerja apa. Saja wajab nani (petani, red). Lalu, ia tawarkan ke saya, mau jadi tukang suntik ternak tidak. Waktu itu syaratnya mudah saja, ijazah boleh apa saja. Saya juga terdorong, karena waktu itu kelompok tani (KT) kami dengan nama KT Subur, Desa Banjarmanis, Talangpadang, yang saat itu masih masuk wilayah Lampung Selatan, menerima sapi bantuan presiden (banpres). Ternak sapi, kambing, dan kerbau banyak tetapi petugas inseminator tidak ada. Oleh kelompok tani, saya dikirim mengikuti berbagai pelatihan inseminasi di Poncowati, Lampung Tengah. Sepulang pelatihan saya diberi peralatan inseminasi. Walaupun belum dapat SK, kami diperintahkan meng-IB hewan. Baru tahun 1983 saya mendapat SK (surat keputusan, red) sebagai petugas inseminator untuk kecamatan Talangpadang. Tahun 1984, Dinas Peternakan Provinsi Lampung mengirim saya mengikuti kursus IB tingkat nasional di Ungaran, Jawa Tengah. Pulang dari itu, saya ditugaskan menjadi petugas IB bukan di Talangpadang dan Pagelaran. Sekarang, saya menjadi koordinator inseminator Kabupaten Tanggamus, yang membawahkan 11 petugas IB. Wilayah tanggung jawab untuk nyuntik yaitu 20 kelompok petani ternak dan lebih banyak pribadi, yang bisa berasal dari tempat jauh.
Apa keuntungan IB bagi peternak? Kambing boerawa atau saburai memiliki kelebihan dibanding jenis lainnya. Berat lahir lebih tinggi, pertumbuhan lebih cepat dengan pertambahan berat lebih tinggi. Kandungan daging lebih banyak dari jenis PE. Pada usia 8--10 bulan, bobot kambing saburai mencapai 45--50 kilogram, kalau dijual sekitar Rp1 juta. Sedangkan harga kambing PE pada usia dan bobot sama, lebih murah separuhnya. Selain itu, kadar kolesterol lebih rendah. Kambing itu lebih adaptif terhadap lingkungan, lebih tahan terhadap penyakit, beranak banyak. Dagingnya juga lembut.

Saat pertama kali bertugas, apa yang Anda lakukan? Saat itu saya melakukan penyuluhan IB se-Kecamatan Talangpadang, meliputi 39 desa, dengan jarak sangat jauh. Saya jalan kaki untuk sampai ke suatu tempat, kadang juga dijemput dengan menggunakan motor. Setiap hari bisa keliling ke tiga desa. Akhirnya saya membentuk kelompok petani ternak, satu desa bisa terdiri atas dua hingga empat kelompok. Setiap kelompok ditunjuk siapa ketuanya yang bertugas mengoordinasikan anggotanua jika mau ada penyuluhan. Saat penyuluhan itu, ya sekalian saya nyuntik. Sekarang ini, di Tanggamus ini sudah ada 50 kelompok petani ternak kambing, setiap kelompok terdiri atas 20 orang. Minimal masing-masing kelompok punya 50 hingga 250 kambing. Kalau kelompok ternak sapi baru ada enam, minimal setiap kelompoknya punya 24 ekor.

Bagaimana respons awal dari masyarakat saat IB dikenalkan? Ya macam-macam responsnya. Ada yang bilang masa disuntik saja bisa beranak. Ada juga yang bilang, nanti kalau sudah disuntik malah sapinya lemas, engga bisa narik pleret (gerobak tanpa roda, red). Saya jelaskan kepada mereka, saya hanya menjalankan tugas dari pemerintah. Masalah kambing itu bisa beranak, ya saya hanya perantara Tuhan. Eeeh, ketika benar kambing melahirkan, banyak yang berbondong-bondong ke saya, minta dikawin suntik.

Untuk mewujudkan Tanggamus sebagai sentra kambing saburai, menurut Anda, apa yang harus dilakukan? Paling penting adalah pengadaan inseminator yang besertifikat. Saat ini, di Tanggamus baru ada 12 inseminator. Sedangkan ada 50 kelompok petani ternak kambing dan enam kelompok petani ternak sapi. Dengan jangkauan wilayah yang berjauhan, mestinya ada penambahan petugas.

Berapa honorarium yang diberikan pemerintah? Sejak diangkat menjadi pegawai honorarium Pemkab tahun 2003 saya mendapat Rp150 ribu. Sekarang saya mendapat honorarium Rp400 ribu. Sebelum jadi pegawai honorer, tak menerima apa-apa. Sehari berapa hewan yang disuntik. Ada tidak tarifnya atas jasa kawin suntik itu? Sekarang ini, sehari rata-rata paling sedikit 20 ekor. Sebenarnya tak ada tarif, semen bekunya saya dapat dari Dinas Peternakan. Tetapi, ada yang memberi secara sukarela. Tahun 81-an, kadang dapat Rp3.000, Rp5.000, ada juga yang cuma bilang matur nuwun. Sekarang, untuk kambing biasanya mereka beri Rp30 ribu, sapi Rp50 ribu. Tetapi bayarnya setelah lahir. Kalau hitung-hitung mungkin lumayan, tetapi menunggu setelah lahir, kadang juga ada yang lupa.

Apa harapan Anda tentang kesejahteraan? Sudah lama saya bertugas, 26 tahun lebih, dulu saya berharap sekali bisa menjadi PNS. Tahun 1985, saya tes PNS tidak lulus. Belum lama ini ada pengangkatan pegawai honorer menjadi PNS, tetapi saya tersandung umur karena sudah kelewat tua, sehingga ditolak. Ya sekarang, saya pasrah saja, tetapi saya tetap berharap honorarium dinaikkan. Harapan saya agar inseminator yang belum PNS bisa segera diangkat. Dari 12, yang diangkat kemarin 7 orang. Lalu perlu juga insentif untuk tenaga sukarela. Mereka ini sama sekali tidak ada honorariumnya, padahal tugas sama berat. Jadi cuma pemberian sukarela saja dari peternak, yang sebenarnya engga pasti.

Anda juga vaksinator avian influenza (AI) di Tanggamus, apa pengalaman Anda? Setelah pelatihan sebagai vaksinator, saya langsung menjalankan tugas. Saya kumpulkan masyarakat lewat kepala desanya dan pekon, untuk mevaksin unggas mereka. Awalnya banyak yang menolak, mereka takut setelah divaksin malah mati. Ada juga yang bilang, "Kalau mau memvaksin ya pegang sendiri". Ya kalau siang, namanya ayam buras kan di mana-mana. Saya hanya sampaikan kepada mereka, memvaksin tanggung jawab saya. Kalau ada laporan ayam mati karena AI, nanti saya dianggap atasan tidak kerja. Saya pun mengalah, memvaksin pada malam hari hingga pukul 10 malam, karena ayam sudah dikandangkan. Kadang juga saya vaksin ketika ayam sedang di atas pohon. Tetapi, sekarang masyarakat sudah mulai paham, mereka pun minta saya memvaksin.
Ada honorarium memvaksin? Hanya Rp9.000 per ekor. Saya tak pernah hitung berapa yang sudah divaksin, tahu-tahu awal bulan saya dapat Rp50 ribu dari dinas. n M-1

Bekerja itu yang Penting Ikhlas

MESKIPUN pendidikannya tak sampai perguruan tinggi, keahlian Masro Haryono layaknya seorang sarjana di bidang peternakan. Pengetahuan tentang peternakan justru ia peroleh dari berbagai pelatihan, baik tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional. Di antaranya pelatihan petugas pemeriksaan kebuntingan angkatan I, Balai Latihan Penyuluhan Pertanian, Bogor, 31 Oktober 1987. Masro pun diakui sukses dalam melakukan penyuluhan dan pemberdayaan kepada masyarakat, khususnya petani peternak. Itu dibuktikan dengan berbagai prestasi yang diraihnya, seperti Inseminator Terbaik IV Tingkat Nasional, Dirjen Bina Produksi Peternakan, tahun 2004.
Ia berujar belajar bisa dari mana saja, tak hanya mengenyam bangku sekolah. Ilmu begitu penting dan dengan ilmu itu seseorang dapat meraih masa depannya. Itulah yang menyebabkan Masro bertekad agar adik dan anaknya menjadi berhasil lewat pengasahan ilmu. "Saya memang petani. Saya harus mengolah sepuluh 0 petak sawah yang merupakan warisan orang tua. Dengan itulah saya membiayai adik sekolah karena saya tulang punggung mereka," ujar putra sulung dari empat bersaudara ini.
Masro yang mengalah menjadi petani akhirnya mampu mengantar dua adiknya menggapai masa depan dengan pendidikan tinggi dan menjadi pegawai Depnaker Provinsi Lampung dan pegawai PJKA. Keuletan Masro dalam mengemban amanah apa pun, menghasilkan rezeki yang berkah sehingga enam anaknya pun mampu mandiri dan sukses. Di antaranya ada yang menjadi guru di Tuban, Jawa Timur, anggota Marinir di Surabaya, dan pegawai Dinas Pertanian Tanggamus.
Keterbatasan ekonomi tak urung menyergap rumah tangga Masro. Ia punya kiat, sedikit apa pun uang yang ada setiap harinya, selalu ditabung. "Setiap hari pasti nabung, punya uang Rp20 ribu, ya ditabung sebagian untuk ngirimi anak," tutur suami Hasanah ini. Sawahnya tak selalu menjanjikan hasil ketika puso atau terserang hama penyakit. Honorarium yang diperoleh sebagai inseminator memang membantu, tetapi tetap saja harus prihatin. Meskipun demikian, ia berikrar tetap menjalankan tugas sebagai inseminator. "Saya lakukan dengan ikhlas, tanpa berharap pamrih," ucapnya. Ya, termasuk ketika ia secara tak langsung diminta sebagai juru kampanye untuk mendukung salah satu bupati yang berhasil memenangkan pilkada. Setiap masuk ke desa, sembari menyuluh, menyuntik, juga kampanye. Ia bersyukur usahanya berhasil meskipun si inseminator ini masih tetap menjadi pekerja honorer abadi. n DWI/M-1

Artikel Peternakan Kambing Lainnya,
Klik. Berlibur ke Neqtasari Farm, Ciwidey, Bandung

1 komentar:

  1. berapa no HP/telpon pak masro lampung.karena saya mau nyembangkan ternak di NTB.dari rohman asli jawa timur kerja di NTB.email rohman77@gmail.com
    mohon di balas

    BalasHapus

Saran, Kritikan dan Masukan Anda diperlukan untuk Kemajuan Usaha Ternak Indonesia