Blog Informasi Ternak Domba Garut,Cara Beternak Domba,Komunitas Dan Produk Hilir Usaha Kambing Domba

Sabtu, 12 Januari 2008

KABUPATEN BANDUNG, YES ! ! !

SUMBER: GALAMEDIA

HPDKI Kab. Bandung Juara Umum

HIMPUNAN Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Cabang Kab. Bandung mampu membuktikan diri sebagai gudangnya domba papan atas. Terbukti, pada perhelatan seni ketangkasan domba bertajuk "Galamedia Cup I", bertempat di Pamidangan Moh. Toha Bandung, Sabtu-Minggu (29-30/12), wadah penggila domba yang diketuai Drs. H.E. Warnadi ini tampil sebagai juara umum dengan meraih total nilai 26. Dengan demikian, piala bergilir yang pada tahun lalu mendekam di Sekretariat DPC HPDKI Kota Bandung, Jln. H. Akhsan No. 7 Moh. Toha Bandung itu harus berpindah tempat ke Jln. Baru Raya No. 98 Ters. Cibaduyut yang merupakan Sekretariat DPC HPDKI Kab. Bandung.

Total nilai tertinggi tersebut dipersembahkan "Bukbis", domba andalan H. Asep Sunandar Sunarya yang menempati urutan pertama (nilai 6) dan "Racing", domba milik Guru Ace yang menempati urutan kedua (nilai 5) di kelas A. Di kelas B dipersembahkan oleh "Dirham" milik H. Hamdani Pandawa yang menempati urutan kedua (nilai 5), "Dewabrata" milik Asep Qori yang menempati urutan keempat (nilai 3), "Singalaga" milik Guru Ace yang menempati urutan kelima (nilai 2) serta "Gelar" milik Cepi Balebat yang menempati urutan keenam (nilai 1). Sedangkan di kelas C, sumbangan nilai dipersembahkan oleh "Barat" domba milik Cep Doddy yang menempati urutan ketiga dengan nilai 4.

Seandainya "Kramatjati" yang menempati urutan pertama di kelas B tidak berpindah tangan dari Jajang ke Deni (Kab. Garut), sudah pasti nilai yang diraih kontingen Kab. Bandung akan lebih tinggi lagi. Meski demikian, keberhasilan itu membuat H. Warnadi menebar senyum. Ditemui usai kegiatan, mantan camat ini mengaku bangga dengan prestasi yang diraih wilayahnya. Menurutnya, semua itu merupakan hasil kerja keras semua pihak. Seperti peternak, perawat domba, juru tanding, bobotoh, dll. Namun ia berpesan agar anggotanya jangan sampai terlena dengan prestasi yang sudah diraihnya supaya mahkota itu bisa tetap bertahan. "Mempertahankan lebih sulit daripada merebut. Untuk itu saya berpesan agar semua pihak lebih giat lagi dalam merawat domba," pesannya. (ayep setiaji)**


Guru Ace, pemilik Domba Garut bernama si Racing. Tampak si Racing dibelakang Guru Ace. Foto diambil sewaktu Kunjungan Penulis ke Kandang beliau pada bulan Juni tahun 2007 lalu. 
Sang Komandan Bp. Drs. H.E. Warnadi, foto diambil sewaktu Kunjungan ke Kandang beliau pada bulan Agustus tahun 2007 lalu. Bagi pembaca Blog sekalian Peminat dan Penggemar Domba Tangkas maka beliau senantiasa berkenan dalam membagi ilmunya. Silahkan berkunjung ke wilayah Arjasari kota Banjaran kabupaten Bandung.

Tanggapan Kontes Domba "Galamedia Cup I"
Dombamania Puas


GELARAN seni ketangkasan domba bertajuk "Galamedia Cup 1", memang sudah bergulir sekitar sepekan lalu. Namun, perhelatan di penghujung 2007 itu dianggap paling sukses lantaran paling banyak diikuti peserta. Tercatat pada putaran ketiga Liga Seni Ketangkasan Domba Garut (LSKDG) di Pamidangan Moch. Toha Bandung itu, tercatat sebanyak 225 pasang atau 450 ekor domba turut menyemarakkan kegiatan tersebut.

Terdapat beberapa tanggapan dari para dombamania terhadap gelaran "Galamedia Cup" tersebut. Di aantaranya dari salah satu dedengkot atau tokoh HPDKI, yakni H. Enen Hidayat. Selaku dewan pengarah LSKDG, ia mengaku puas lantaran gelaran tersebut mendapat sambutan dari semua pihak. Terbukti, perhelatan itu diikuti banyak peserta hingga melebihi target yang diperkirakan.

Namun selaku Ketua Umum DPC HPDKI Cabang Kota Bandung, pihaknya merasa kecewa lantaran mahkota juara cabang se-Jawa Barat berpindah tangan ke HPDKI Kab. Bandung. Meski demikian, direbutnya titel tersebut bukan berarti prestasi peternak domba di Kota Bandung menurun. Sebab, kejuaraan seni ketangkasan domba banyak faktor yang memengaruhinya. Yang paling menonjol adalah lawan tanding. Meski domba kita sedang prima, kalau tidak diimbangi lawannya, tetap saja domba tersebut tidak akan memperoleh lawan maksimal. "Meski demikian, saya bertekad dan akan berusaha agar tahun depan mahkota paling bergengsi itu akan kembali ke pangkuan HPDKI Kota Bandung," ujarnya.

Dombamania lainnya, Wendi Setiadi dari Kota Bandung mengatakan, di dunia perdombaan, ia bisa dibilang pemain baru. Namun dalam mengikuti kegiatan, semangatnya jangan ditanya. Saat mengikuti Kejuaraan "Galamedia Cup", pihaknya merasa kagum. Ternyata, seni ketangkasan domba itu banyak sekali penggemarnya. Mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas. "Hal itulah yang memicu saya untuk terus berbaur dengan HPDKI," akunya.

Namun ada sedikit yang perlu dibenahi. Saat mendaftarkan domba, panitia tidak menyediakan uang recehan untuk kembalian sehingga banyak peserta yang kokotetengan menukarkan uang supaya bisa segera daftar. Kedaan ini cukup menghambat jalannya kegiatan. "Untuk itu saya mengimbau agar panitia menyediakan uang receh supaya jalannya kegiatan menjadi lancar," saran Wendi.

Begitu pula dengan H. Ahmad sari Subang, pihaknya merasa reueus lantaran ada media cetak yang mau peduli terhadap seni ketangkasan domba di tengah pro dan kontra yang tidak ada habisnya. "Mudah-mudahan, dengan terjunnya HU Galamedia, kegiatan seni ketangkasan domba semakin mengarah ke hal yang lebih baik," harapnya.Makin berkembang

Memang harus diakui, dengan adanya pemberitaan di Galamedia, dunia perdombaan semakin berkembang. Bahkan, belakangan ini sudah merambah hingga ke pinggiran. Salah satunya ke Kab. Subang. "Harapan saya, pemberitaan di Galamedia menjadi sarana untuk menyosialisasikan aturan main seni ketangkasan domba yang masih bervariasi (terutama di daerah) supaya bisa seragam. Tolok ukurnya adalah Kota dan Kab. Bandung yang jam terbangnya jauh lebih banyak," tuturnya.

H. Yusup dari Sumedang berpendapat, membeludaknya peserta tidak diprediksi panitia. Ini terlihat dari persiapannya yang kurang begitu matang. Misalnya pancuh alias patok tempat penambatan domba yang kurang dipersiapkan sehingga peserta harus pasang patok tambahan. "Untungnya patok cadangan sudah disiapkan. Namun yang jadi kendala bagi saya, alokasi patok yang kurang matang membuat saya harus menambatkan domba di tempat terpisah. Yakni, sebagian di sebelah utara dan sebagian lagi di selatan," katanya.Kenyataan itulah yang membuatnya sedikit repot saat memantau domba. "Hal lain adalah sarana parkir yang agak semrawut, terutama menjelang akhir kegiatan saat peserta hendak meninggalkan pamidangan. Kendaraan satu sama lain jadi pabaliut dengan domba lantaran tempat penambatannya terlalu mepet ke jalan utama," keluhnya. (ayep setiaji)**

Bagi Pembaca Blog sekalian yang tertarik untuk mengetahui lebih jauh ataupun menyaksikan Seni Ketangkasan Domba Garut maka silahkan simak informasi sebagai berikut: 
Sejarah Ketangkasan Domba Garut
Bayu Nugraha Saputra, Netfarm UNPAD


Adu Domba atau yang dikenal dengan sebutan Laga Domba adalah suatu permainan rakyat yang sudah ada di Garut sejak lama. Masyarakat sangat berkesan melihat Domba Adu yang mempunyai badan yang kokoh, indah, lincah dan memiliki gerakan-gerakan yang sangat bagus saat bertanding. Ketangkasan Laga Domba biasanya dilaksanakan setiap bulan Juni setiap tahunnya. Domba Garut yang dibudidayakan masyarakat Garut sejak lama merupakan hasil persilangan segitiga antara domba asli Indonesia, domba Merino dari Asia Kecil dan domba ekor gemuk dari Afrika. Domba jantan dewasa mempunyai bobot 80 kg, lehernya kuat sekali, tanduknya besar, dan dagingnya enak.

Lamanya pertandingan sekitar 3 menit, dan biasanya domba-domba membenturkan kepalanya sebanyak 20 hingga 25 kali. Namun, sebelum jumlah benturan terlaksana, wasit berhak menghentikan pertarungan bila dilihatnya ada salah satu dari domba yang cedera. Bahkan, jika terlihat parah, domba tersebut bisa saja di eksekusi saat itu juga agar tidak menderita lebih lama nantinya.

Saat ini komunitas pencinta, penikmat maupun pemilik dan peternak domba adu yang lebih dikenal dengan sebutan domba garut ini, jumlahnya dari tahun ke tahun terus bertambah. Berdasarkan catatan HPDKI Jawa Barat yang sebelumnya di ketuai H. Uu Rukmana dan kini dijabat Ir. H. Yudi Guntara Noor, jumlah anggota sudah mencapai 4.400.000 orang dengan 7 juta ekor domba.

Domba Garut sangat populer di Jawa Barat, oleh sebab itu maka hampir seluruh penggemar / petani domba memilih untuk beternak domba Garut. Kita dapat mendapatkan domba Garut di beberapa lokasi, seperti Garut, Bayongbong, Cibuluh, Cikajang, Cilawu, Leles, Kadungora, Majalaya, Patrol, Sumedang, Tasikmalaya, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Lembang, dan lokasi lainnya.

Rumput adalah makanan utama dari domba. Kita biasanya mendapatkan rumput segar setiap 2 atau 3 hari sekali. Kita berusaha untuk menyediakan seluruh makanan dalam keadaan segar. Alasannya adalah makanan tersebut masih akan banyak mengandung vitamin dan mineral di dalamnya. Akan sangat sulit bagi para peternak untuk mendapatkan rumput diwaktu musim kemarau. Diwaktu musim hujan, akan sangat banyak rumput tersedia untuk domba-domba tersebut.

Untuk memberikan makanan tambahan berupa sisa dari proses pembuatan tahu yang dinamakan "ampas tahu". Dengan ditambahkannya jenis makanan ini, maka pertumbuhan domba tersebut akan semakin pesat, dan karena makanan tambahan ini mengandung banyak vitamin dan mineral, akan sangat bagus apabila makanan ini tersedia secara kontinyu, sebagai contoh 2 hari sekali. Apabila tersedia setiap hari, hal tersebut lebih baik lagi.

Biasanya ada pula peternak yang memberikan konsentrat pada domba-dombanya. Konsentrat tersebut biasanya adalah konsentrat untuk kuda atau sapi, tapi ada pula yang dikhususkan untuk domba. Makanan lainnya untuk domba dapat berupa dedaunan, seperti: daun pisang, daunjagung, daun nangka, dan lain sebagainya. Tetapi ada hal yang harus diperhatikan, bahwa tidak semua domba tersebut akan suka dengan dedaunan yang kita sediakan. Semuanya bergantung kepada rutinitas makanan yang kita berikan. Hanya satu yang perlu diingat, apabila anda akan memberikan makanan baru kepada domba-domba anda, maka berikanlah makanan tersebut secara bertahap, dari mulai sedikit hingga jumlah yang diinginkan. Campurkanlah makanan baru tersebut dengan makanan lama sedikit demi sedikit, lalu kemudian setelah 3 atau 4 hari, dapatlah diberikan makanan tersebut secara terpisah dengan porsi yang diinginkan.

Di bawah adalah jadwal vaksinasi yang biasanya diberikan pada domba. Para peternak lainnya mungkin menggunakan jadwal lain yang diterapkan pada dombanya. Untuk jadwal detail vaksinasi, dapat anda tanyakan pada dokter / mantri hewan serta dinas peternakan setempat.

Vaksinasi:
Anthrax, 1 Tahun Sekali
Tetanus, 1 Tahun Sekali
Obat Cacing, 3 Bulan Sekali
Penyakit Kuku dan Mulut, 1 Tahun Sekali
Vitamin / Antibiotik, Apabila diperlukan.

Hampir seluruh kontes ketangkasan domba diadakan setiap akhir minggu. Apabila ada kontes skala besar, maka hari Sabtu biasanya digunakan juga untuk kontes tersebut. Kontes tersebut biasanya dimulai pada pukul 09.00 WIB hingga pukul 15.00 / 16.00 WIB. Suatu lokasi kontes biasanya dibuka dua minggu satu kali, tetapi ada pula yang satu minggu satu kali atau bahkan satu bulan satu kali. Jadwal tersebut akan berubah apabila bertemu dengan bulan yang mempunya lima hari Minggu, hubungi sekretariat HPDKI masing-masing daerah.Berikut ini adalah sebagian besar jadwal kontes seni ketangkasan domba di propinsi Jawa Barat, khususnya di daerah Garut, Bandung, Sumedang, Majalaya, Cisarua, Subang, and Lembang. 

Jadwal kontes:

A.Daerah Bandung
Lapangan Siliwangi : Minggu pertama dan ketiga setiap bulannya.
Lapangan Muh. Toha : Minggu kedua setiap bulannya.
Lapangan Arcamanik : Minggu ketiga setiap bulannya
Lapangan Ciwaruga : Minggu kedua setiap bulannya
Lapangan Cimahi : Minggu kedua setiap bulannya.

B.Daerah Cileunyi
Lapangan Cikandang : Minggu pertama dan ketiga setiap bulannya.
Lapangan Cibolerang : Minggu kedua setiap bulannya.
Lapangan Kiaraberes : Minggu kedua setiap bulannya.

C.Daerah Garut
Lapangan Nagreg : Minggu kedua setiap bulannya.
Lapangan Leles : Minggu pertama setiap bulannya.
Lapangan Batunanceb : Minggu kedua tiap bulannya.
Lapangan Cikajang : Minggu pertama setiap bulannya.

D.Daerah Sumedang
Lapangan Cimalaka : Minggu pertama dan ketiga setiap bulannya.
Lapangan Tanjungsari : Minggu kedua setiap bulannya.
Lapangan Kadipaten : Minggu ketiga setiap bulannya.
Lapangan UNPAD : satu tahun dua kali.

E.Daerah Cianjur / Bogor
Lapangan Cibodas : Minggu keempat setiap bulannya.
Lapangan Cipanas : akan diumumkan kemudian dan TMII (Taman Mini Indonesia Indah) : satu tahun sekali.

F.Daerah Jakarta
Lapangan Banteng : satu tahun sekali.

Klik Link Menarik Lainnya Tentang Ketangkasan Domba Garut, 
Seni Ketangkasan Domba Garut Paguyuban 30 Fapet UNPAD 2013

"Mengubah Paradigma Domba Garut Yang Bukan Domba Adu"

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Saran, Kritikan dan Masukan Anda diperlukan untuk Kemajuan Usaha Ternak Indonesia