BAGAIMANA DI YOGYAKARTA? Yogyakarta, Kedaulatan Rakyat, 05 Desember 2007. Dinas Pertanian DIY mengintensifkan pemantauan distribusi ternak. Selain itu, dokter hewan akan disiagakan untuk mengecek kondisi ternak yang akan disembelih.Kabid Peternakan, Dispertan DIY Ir Daryadi menyampaikan hal tersebut kepada KR, Selasa (4/12), terkait persiapan menyambut hari raya Idul Adha di DIY. Dikatakan, Dispertan DIY telah melakukan koordinasi dengan sejumlah instansi untuk penyediaan hewan kurban sehat dan berkualitas. ”Kita sudah melakukan sosialisasi tentang tata cara penyembelihan hewan yang benar kepada takmir masjid. Kita juga menggandeng mahasiswa peternakan untuk melakukan pendampingan dalam pelaksanaan penyembelihan hewan yang benar dan menyiagakan dokter hewan untuk mengecek kondisi ternak yang akan disembelih,” papar Daryadi. Tak tanggung-tanggung Dispertan DIY juga meminta kepada takmir untuk melihat kondisi ternak yang akan disembelih, tentunya hewan ternak yang akan disembelih tersebut harus disertai bukti-bukti surat kelengkapan hewan sehat. Dengan demikian, Daryadi berharap beredarnya hewan yang tidak berkualitas dan terjangkiti penyakit pada saat perayaan Idul Adha bisa diminimalisir. Daryadi mengatakan, menjelang perayaan Idul Adha biasanya permintaan hewan ternak mengalami peningkatan cukup drastis. Bahkan, harga jual hewan kurban juga ikut terdongkrak naik signifikan. Pada momen tersebut biasanya peredaran hewan ternak menjadi sulit terkendali dan penyebaran daging hewan tak berkualitas kerap muncul.”Biasanya permintaan hewan ternak ada kenaikan. Tahun lalu saja tercatat ada 9 ribu sapi dan 19 ribu kambing yang digunakan untuk keperluan perayaan kurban. Untuk tahun ini kemungkinan permintaan bisa lebih besar lagi. Apalagi, kondisi ekonomi sudah membaik,” ujar Daryadi, seraya mengatakan, untuk kebutuhan hewan ternak, baik sapi maupun kambing potong di wilayah DIY cukup memadai. Daryadi menambahkan, untuk meminimalisir masuknya hewan yang tidak sehat pada saat Idul Adha di wilayah DIY Dispertan telah memperketat jalur distribusi ternak. Tentunya, setiap hewan ternak yang masuk maupun keluar dari DIY harus dilengkapi dengan surat-surat bukti sehat dari dokter hewan. (*-7)
CIANJUR, MARI KITA SIMAK BERITANYA! Cianjur, Harian Umum Pelita, 12 Desember 2007. Menjelang Hari Raya Idul Adha 1428 H Pasar Hewan Salagedang, satu-satunya pasar hewan di Kabupaten Cianjur, Jabar, mulai ramai. Setiap Senin dan Kamis ratusan ekor domba, dan sapi ditawarkan di pasar tersebut. Untuk hewan qurban domba rata-rata harganya Rp600.000, s/d Rp2.000.000. Sedangkan sapi rata-rata harganya Rp5.000.000, s/d Rp9.000.000, Tinggi rendahnya harga hewan qurban baik domba maupun sapi sangat tergantung berat badannya.Di Pasar Hewan Salagedang, akhir-akhir ini dalam menjelang Idul Adha 1428 H, dalam setiap harinya sedikitnya terjadi transaksi 200 ekor domba, dan beberapa ekor sapi untuk dipergunakan sebagai hewan qurban Idul Adha nanti. Kebutuhan hewan qurban di Kabupaten Cianjur, jika dibandingkan dengan tahun lalu mengalami peningkatan sebanyak lima persen, kata Drh. Chaerul Anwar Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Cianjur kepada Pelita, Jumat (7/12). Disebutkan pada tahun 2006, kebutuhan hewan qurban sapi, kerbau, domba, dan kambing sebanyak 10.445 ekor, Sedangkan untuk tahun 2007 ini diperkirakan kebutuhan hewan qurban sapi, kerbau, domba, dan kambing sebanyak 10.965 ekor.Terbebas antraks. Kepala Dinaskan Kabupaten Cianjur, memastikan dan menjamin hewan qurban di Kabupaten Cianjur bebas dari antraks berdasarkan hasil pengawasan yang dilakukan dengan mendirikan pos pengawasan transportasi hewan baik hewan peliharaan maupun hewan untuk qurban. Hewan qurban yang ada di Cianjur, tidak berpenyakit, karena Cianjur bukan endemik antraks, dan guna mengintensifkan pengawasan, pada hari Kamis (6/12), kami melakukan sosialisasi dengan para peternak dan pengusaha hewan, petugas peternakan kecamatan, ujar Chaerul Anwar. Disamping itu, Disnakan terus melakukan pengawasan terhadap hewan yang masuk ke Kabupaten Cianjur dalam menjelang Hari Raya Idul Adha 1428 H. Setiap hewan yang masuk dilakukan pemeriksaan kesehatannya agar tidak merugikan masyarakat.(ck-67/man)
BERIKUT SITUASI DI MAGELANG! Wawasan Digital. MUNGKID - Menjelang Hari Raya Idul Adha 1428 H, penjualan hewan kurban di Pasar Hewan Mertoyudan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, mulai ramai. Pembelinya, para pedagang yang datang dari luar daerah, seperti Semarang, Salatiga, dan Yogyakarta. Untuk kambing jenis jawa, harganya bervariasi mulai Rp 450.000 - Rp 1 juta/ekor dan domba Rp 400.000 - Rp 900.000/ekor. Pedagang kambing di Pasar Hewan Mertoyudan, Hartono saat ditemui Wawasan, Rabu (21/11) menjelaskan, pasaran kambing sekarang ini mulai ramai, terutama para pedagang kambing yang datang dari luar Magelang. Sebab harga kambing di pasaran saat ini masih normal. Artinya, belum ada kenaikan harga yang cukup signifikan. Naik "Harga kambing naik tajam, seminggu sebelum Idul Adha. Jika sekarang ada kenaikan harga, masih relatif normal. Kalau ada kenaikan, berkisar Rp 30.000 - Rp 50.000/ekor, menjelang Idul Adha kenaikan mencapai Rp 100.000 - Rp 150.000/ekor," katanya. Mulai ramainya transaksi hewan kurban, karena banyak pedagang yang datang dari luar daerah, seperti Yogyakarta, Semarang dan daerah lainnya. Para pedagang, membeli kambing dengan jumlah banyak, sekitar 50 - 75 ekor. Untuk pasar Semarang, lanjutnya, kambing kurban jenis jawa paling diminati pembeli, dan harganya juga bagus dibanding domba (gibas). Harga kambing jawa, ukuran kecil Rp 450.000 - Rp 550.000/ekor, sedang Rp 600.000 - Rp 800.000, besar Rp 850.000 - Rp 1 juta, super Rp 1.100.000 - Rp 1.200.000/ekor. Sedangkan permintaan domba paling banyak dari Yogyakarta. Harganya bervariasi, domba ukuran kecil, Rp 400.000 - Rp 500.000, sedang Rp 550.000 - Rp 650.000, besar Rp 700.000 - Rp 900.000, super mencapai Rp 1.100.000/ ekor. "Sekarang ini, harga kambing kurban relatif masih murah. Kalau mendekati hari raya kurban, pembeli banyak, harganya juga naik," kata Hartono. Ali-skh
SUASANA KOTA KEMBANG BANDUNG? Republika Online, 07 Desember 2007. Jelang Qurban, Tujuh Daerah Endemis Antraks Disorot Peluang beredarnya sapi berpenyakit pada musim hujan ini sangat besar. BANDUNG -- Menjelang Hari Raya Idul Adha 1428 Hijriah, 20 Desember 2007, sedikitnya tujuh kabupaten/kota yang menjadi daerah endemis antraks mendapat pengawasan ketat. Dinas Peternakan (Disnak) Jawa Barat melarang sapi dari tujuh daerah tersebut beredar ke daerah lain sebelum mendapat pemeriksaan. Tujuh daerah yang mendapat pengawasan Disnak itu adalah Kabupaten dan Kota Bogor, Kota Depok, Kab Purwakarta, Karawang, Kab/Kota Bekasi. Kepala Disnak Jabat, Rahmat Setiadi, menyatakan, tujuh daerah tersebut merupakan daerah endemis antraks. Kata dia, sapi yang berasal dari tujuh daerah tersebut tidak bisa seenaknya diperjualbelikan. Rahmat mengakui, menjelang Idul Adha, kebutuhan sapi di Jabar rata-rata meningkat di atas 20 persen. Tahun lalu saja, ungkap dia, jumlah sapi yang dipotong saat Hari Idul Adha mencapai 25 ribu ekor, dan kambing sekitar 150 ribu ekor. Saat kebutuhan sapi melonjak, pihaknya tidak akan lengah mengawasi peredaran sapi di tujuh daerah tersebut. ''Tidak hanya beredar di Jabar, ke luar Jabar pun sapi dari tujuh daerah itu akan diawasi,'' ujar Rahmat kepada wartawan di Bandung, belum lama ini. Ia menyatakan, peluang beredarnya sapi berpenyakit saat musim hujan kali ini sangat besar. Karena memang, tegas Rahmat, penyakit hewan ternak biasanya berjangkit di saat musim hujan, termasuk antraks. Karena itu, kata dia, ancaman peredaran sapi berpenyakit itu pun terjadi di daerah lainnya. Dipaparkan Rahmat, belum lama ini seluruh Dinas Peternakan kabupaten/kota sudah diminta meningkatkan pengawasan di daerah masing-masing. Pengawasan tidak hanya pada sapi dan kambing yang masuk tapi juga pada sapi yang akan dikirim ke daerah lain. Setiap hewan kurban yang telah mendapat pemeriksaan dari Disnak, lanjut Rahmat, akan diberi label sehat. Hal tersebut, kata dia, dikarenakan kualifikasi sehat menjadi syarat dalam ibadah kurban. Rahmat menambahkan, selain mengawasi proses distribusi sapi dan kambing , Disnak Jabar pun akan memberi pelatihan kepada ribuan petugas jagal (pemotong hewan) yang akan ditugaskan saat Idul Adha. Pasalnya, selama ini petugas jagal hewan kurban tersebut belum pernah dibekali prosedur memotong sapi dan kambing. ''Selama ini, lokasi pemotongan sapi dan kambing yang resmi hanya di Rumah Potong Hewan (RPH),'' ungkap dia. Terkait dengan rencana tersebut, ungkap Rahmat, pihaknya akan melibatkan Majelis Ulama Indonesia (MUI). ''Memotong hewan kurban harus dilakukan secara sehat dan syariah,'' cetus dia. Sementara itu di Kota Tasikmalaya, Dinas Pertanian setempat meningkatkan pengawasan kepada hewan yang akan dijadikan hewan kurban. Salah satu antisipasi yang dilakukan adalah dengan menyuntik semua hewan kurban. Pada Kamis (5/12) pagi, hewan yang mendapat pemeriksaan sekaligus penyuntikan adalah hewan yang dijajakan di Jl Sutisna Senjaya, persis di seberang SPBU Cicurug. Hewan yang diperiksa itu seluruhnya adalah sapi lokal milik H Ajat (48 tahun). ''Saya mendapat informasi dari Distan kalau sapi saya akan diperiksa dan diberi suntikan. Katanya supaya penyakit sapi gila atau penyakit lainnya tidak menyebar di Tasikmalaya,'' ungkap Ajat kepada Republika. Meski demikian, dari 120 sapi lokal asal Pacitan, Jawa Timur yang dimilikinya, Ajat sangat yakin kalau semuanya aman dari penyakit yang ditakuti. ''Tapi saya tidak menolak kalau Distan mau memeriksa sapi yang akan dijual,'' kata dia. Dalam pemeriksaan itu, Distan menurunkan tim ahli. Menurut Staf Pelaksana Teknis Dinas Pertanian Bidang Peternakan Kota Tasikmalaya, Cecep Kustiawan, hal itu dimaksudkan untuk memastikan kesehatan hewan kurban yang akan dikonsumsi masyarakat. san/mus
PERSIAPAN DI KOTA JAKARTA! Berita Jakarta, 6 Desember 2007. Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Pusat akan memperketat pengawasan terhadap hewan kurban yang masuk ke wilayahnya. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi peredaran hewan kurban yang sakit atau terkena penyakit antraks. Pengawasan terhadap hewan kurban yang akan dilakukan Sudin Peternakan dan Perikanan Jakpus itu melibatkan para dokter hewan dan dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Rencananya, Sudin Peternakan dan Perikanan Jakpus akan melakukan sweeping ke tempat penjualan hewan kurban. Petugas akan memeriksa hewan kurban yang akan dijual ke masyarakat dengan melihat surat izin masuk hewan serta mengecek darahnya untuk memastikan apakah hewan tersebut terjangkit penyakit atau tidak. Kasie Kesehatan Hewan dan Veteriner Sudin Peternakan dan Perikanan Jakarta Pusat, Imam Suhardi, mengatakan, pemeriksaan hewan kurban akan dilakukan pada H-7 menjelang Hari Raya Idul Adha serentak di delapan kecamatan di Jakpus. Pemeriksaan difokuskan di daerah-daerah yang menjadi pusat-pusat penjualan hewan kurban seperti Tanahabang, Kemayoran, dan Jalan Abdul Muis Gambir. "Saat ini kami baru melakukan sosialisasi terhadap Panitia Pemotongan Hewan Kurban di 120 masjid. Sedangkan untuk pemeriksaanya sendiri dilakukan pada H-7 nanti," ujarnya usai menghadiri Rapat Koordinasi Pemeriksaan Hewan Kurban di Ruang Serbaguna kantor Walikota Jakarta Pusat, Kamis (6/12). Selain itu, untuk mengantisipasi penyebaran virus antraks, kata Imam, pihaknya akan menolak kehadiran hewan kurban yang berasal dari daerah endemis antraks seperti Bogor, Jawa Barat. "Kita akan menolak pengiriman hewan kurban dari daerah endemis antraks seperti Bogor," katanya. Saat ini hewan kurban yang dipasok ke Jakarta pusat untuk kebutuhan Idul Adha berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. "Jumlahnya diperkirakan sekitar seribu ekor sapi dan delapan ribu ekor kambing," jelasnya. Dengan banyaknya jumlah hewan kurban yang masuk tersebut, menurut Imam, persediaan hewan kurban di wilayah Jakarta Pusat dipastikan akan mencukupi.
LALU DENGAN BEKASI? BEKASI--MEDIA: Guna mencegah merebaknya penyakit antraks, Dinas Perkonomian dan Koperasi (Disperakop) Kota Bekasi melarang pembelian hewan kurban asal Bogor dan Purwakarta, Jawa Barat. Pernyataan tersebut dikatakan Kasi Higienis Sanitasi Pengawasan Kesehatan Hewan pada Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Disperakop Kota Bekasi, Wadirimal, Selasa (11/12). Menurutnya, hewan kurban yang berasal dari Bogor dan Purwakarta cenderung terinfeksi penyakit antraks. "Hal ini dimungkinkan setelah Bogor dan Purwakarta sebagai wilayah endemis antraks," katanya. Surat edaran, lanjutnya, sudah diberikan kepada lurah dan camat setempat agar mengimbau para pedagang daging disejumlah pasar tradisional terkait penunjukan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) asal hewan itu. "Pengawasan terhadap masuknya hewan berpenyakit telah dilakukan dengan membentuk 28 anggota Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kesmavet Disperakop," jelasnya. Hal senada dikatakan Kasi Produk Bahan Asal Hewan pada Kesmavet Disperakop Kota Bekasi, Satia. Katanya, dalam beberapa tahun belakangan di dua wilayah tersebut masih ditemukan penyakit antraks. "Sebagai wilayah endemis maka wilayah yang dimaksud bisa dikatakan steril jika dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, kasus bakteri antraks (Bacillus antracis) tidak ditemukan," jelasnya. (GG/OL-06)
Lalu bagaimana dengan persiapan Villa Domba dan Sahabat Ternak lainnya dalam pengadaan hewan ternak untuk Ibadah Kurban tahun ini? Ternak yang sudah digemukkan sebelumnya mulai didistribusikan pada pelanggan melalui Kandang Transit yang bekerjasama dengan beberapa Panitia DKM Masjid. Langkah pertama dalam Kegiatan Distribusi adalah Penimbangan Hewan Ternak dan Pemeriksaan Kesehatan sebelum dikirimkan ke Lokasi Tujuan.

Langkah Kedua adalah Ternak diberikan Pakan yang cukup sebelum menempuh perjalanan distribusi ke lokasi tujuan. Ini akan sangat membantu sehingga ternak terhindar dari kelaparan dan stres selama diperjalanan.

Langkah Ketiga adalah menyiapkan armada pengangkutan. Terimakasih kepada Bp. H. Budi yang telah memberikan ilmu baru dan sangat bermanfaat pada penulis dalam menangani distribusi hewan ternak secara efektif dan efesien serta menghindari ternak dari stress. Insya Allah akan dibahas tuntas pada Blog ini selepas hari raya Kurban. Lengkapi perjalanan armada dengan Surat Jalan dan Surat Kesehatan Ternak.

Ternak yang baru tiba di lokasi tujuan dari perjalanan jauh pastinya dalam keadaan lapar dan lelah. Siapkan rumput segar dan berikan pada ternak setibanya di lokasi tujuan. Periksa dengan teliti hewan ternak satu persatu, jenis penyakit yang umumnya biasa diderita ternak setelah perjalanan jauh adalah sakit mata akibat uap dari urine ternak selama perjalanan, tidak perlu panik, pisahkan ternak yang terkena sakit mata dari ternak lainnya kemudian atasi dengan air jeruk nipis yang diteteskan pada mata ternak, pengalaman penulis di mana dalam satu hari maka ternak sudah pulih dari sakit mata yang diderita. Persediaan obat ternak yang hendaknya dapat diupayakan antara lain: Obat cacing, vitamin dan kembung perut sebagai antisipasi. Pelihara selalu Kebersihan Lingkungan di sekitar Kandang Ternak. Semoga bermanfaat dan Salam Peternak!

Pemesanan Hewan Kurban Kambing Domba Silahkan Hubungi:
Sdr.Agus Ramada, HP. 0815.941.3826 atau HP. 0817.009.2255/ (021) 886.7181