Villa Domba Siap Melayani Kebutuhan Domba Qurban Anda!

Senin, 27 Agustus 2007

RUMUSAN SEMENTARA WORKSHOP KAMBING DAN DOMBA

Toko Buku Online

Sebuah informasi berharga yang dikirim oleh Bp. Abdul Jabbar Zulkifli selaku Sekjen HPDKI:

RUMUSAN SEMENTARA
WORKSHOP KAMBING

DAN DOMBA
PUSLITBANG PETERNAKAN,

LOLIT KAMBING POTONG SEI PUTIH, HPDKI DAN KAMPOENG TERNAK

BOGOR , 22 AGUSTUS 2007

Domba-kambing (doka) merupakan salah satu komoditi subsektor pertanian yang memainkan peranan yang cukup penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya di pedesaan. Sumbangan doka terhadap kontribusi pasokan daging bagi kebutuhan daging Nasional, cukup rendah (5-6 %), namun kehadirannya cukup memberi arti khususnya sebagai buffer pengadaan daging bagi kelompok menengah ke bawah. Untuk dapat meningkatkan sumbangan doka bagi pengadaan daging maka beberapa upaya perlu dilakukan sehingga tingkat produktivitas dapat ditingkatkan.

Potensi sumber daya genetik yang ada perlu dieksplorasi sebagai sumberdaya genetik, sekaligus diupayakan perbaikan mutu genetik doka lokal yang diketahui telah beradaptasi dengan baik wilayah Indonesia. Sumber dayagenetik perlu dikelola oleh suatu lembaga, sehingga tingkat ketepatan informasi dapat diketahui untuk dilestarikan dan dimanfaatkan secara optimum. Sebagai misal, upaya mempertahankan dan meningkatkan keberadaan bibit Kambing PE yang dilakukan oleh Pemda DIY perlu terus dikembangkan. Suatu aturan perlu diberlakukan dengan secepatnya sehingga pengakuan keberadaan untuk dilestarikan dan dapat dimanfaatkan secara optimum.

Rumpun ternak yang perlu dilestarikan harus didasari pada (i) pertimbangan keilmuan dan (ii) pertimbangan kultur. Strategi pelestarian dilakukan melalui pendekatan (i) peningkatan SDM dan organisasi (ii) kebijakan dan koordinasi, (iii) penelitian dan pengembangan. Pemuliaan ternak dapat dilakukan dengan pendekatan (i) seleksi di antara dan di dalam rumpun, (ii) persilangan dengan kemampuan genetik yang diunggulkan. Kendala seleksi, di lapang adalah (i) besarnya pengaruh lingkungan, (ii) seleksi kurang efisien, (iii) kondisi ekonomi peternak, (iv) tidak tersedia catatan ternak.

Salah satu permasalahan rendahnya tingkat produktivitas doka adalah rendahnya populasi induk, skala usaha masih kecil, sementera ternak yang baik lebih diarahkan untuk dijual. Untuk memacu tingkat produktivitas maka arah kebijakan yang sedang dikembangkan antara lain melalui (i) pola petenakan rakyat dan (ii) pola usaha peternakan. Daerah pengembangan ternak doka akan diprioritaskan/dipusatkan pada tujuh Propinsi, yakni Sumut, Jambi, Lampung, Jabar, Jateng, Jatim, DIY, dan Sulawesi Selatan.

Pemilihan bangsa kambing dan domba akan disesuaikan dengan kebutuhan dan target pasar (kebutuhan lokal ataupun di ekspor). Bangsa ternak yang akan menjadi pilihan antara lain, untuk kambing adalah PE, Boer, Boerawa, Boerka, dan Saanen, sedangkan untuk domba adalah Domba Garut, hasil persilangan Garut dengan Barbados dan DEG. Demikian pula pengelompokkan doka perlu dilakukan dalam beberapa kelas yang untuk selanjutnya sebaiknya disesuaikan dengan target pasar.

Untuk mempercepat proses tersebut perlu langkah strategis pengembangan perbibitan doka antara lain: (i) memaksimumkan jaringan antara instansi terkait, (ii) impor bibit unggul, (iii) persilangan untuk mendapatkan bibit unggul, (iv) program sertifikasi bibit, (v) perbaikan pakan dan tatalaksana reproduksi, (vi) memperluas sentra perbibitan.


Kebutuhan bibit ternak untuk dapat mencapai harapan pasar adalah 2,47 juta ekor, sedangkan jumlah induk yang kurang 1,6 juta induk. Untuk memenuhi kebutuhan ternak bibit tersebut perlu kerjasama kemitraan dalam suatu wadah yang saling menguntungkan antara pihak yang bermitra. Masing-masing pihak diwajibkan memenuhi kewajiban dan melaksanakan haknya secara bertanggung jawab sebagai yang telah disepakati. Dengan penyempurnaan beberapa kelemahan, aplikasi model pemgembangan perbibitan domba yang dilakukan oleh Kampoeng Ternak patut dihargai.

Banyak teknologi telah tersedia, namun belum semua dapat diaplikasikan dalam skala lapang. Sehingga perlu dilakukan pemilahan agar dapat diketahui dengan jelas teknologi yang dapat ditransfer ke pihak pengguna.

Teknologi bibit harus disesuaikan dengan pasar/permintaan (lokal vs internasional). Pemanfaatan SDG yang ada merupakan modal dasar yang harus diacu. Ketersediaan teknologi pakan dapat dipergunakan untuk dapat disesuaikan dengan kebutuhan ternak. Efisiensi penggunaan pakan perlu mendapat pertimbangan khusus agar dapat memberi nilai tambah. Penyediaan pakan siap saji baik dalam bentuk pelet maupun balok sangat diharapkan. Dalam bentuk pelet ataupun pakan blok, penambahan beberapa unsur mikro/imbuhan akan lebih memberikan nilai tambah. Ketersediaan pakan imbuhan seperti probiotik perlu dilakukan, karena bahan ini mampu mempengaruhi kondisi rumen sehingga pakan yang kita berikan dapat dicerna dan dimanfaatkan dengan baik oleh induk semang. Teknologi integrasi dengan tanaman pertanian dan perkebunan perlu digalakkan.

Demikian pula teknologi defaunasi rumen (unsur saponin, ekstrat Sapindus lerak) yang saat ini dikembangkan merupakan teknologi siap pakai yang dapat meningkatkan kualitas limbah dan hasil sisa tanaman pertanian. Teknologi perlakuan secara kimia, fisik dan biologis memberi keuntungan dan kelemahan yang berbeda, untuk itu perlakuan-perlakuan tersebut perlu dikombinasikan agar bermanfaat secara optimal. Untuk mencapai hasil yang optimal dengan teknologi yang diuraikan di atas maka perlu dukungan teknologi rekording yang baik.

DISKUSI:

Pasar sebagai target akhir dapat dipergunakan sebagai titik ungkit model dan skala pengembangan doka di Indonesia. Untuk itu pola pengelolaan doka sebaiknya disesuaikan, misalnya pasar selama Hari Raya Kurban.

Modal pembiayaan merupakan kendala utama yang belum terjawab. Tugas dan kewajiban pelaku untuk lebih meyakinkan pihak perbankan bahwa usaha doka cukup menjanjikan. Hasil analisa usaha penggemukan yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa usaha ini memberi keuntungan yang menjanjikan, namun belum tersentuh oleh penyandang dana.

Untuk membatasi hilangnya SDG doka yang berkualitas, perlu diterbitkan aturan pengaturan ekspor ternak bibit yang berkualitas dan untuk ternak jantan harus sudah dikastrasi (PE dengan kelas A dan B). Hal ini perlu untuk menghindari hilangnya potensi genetik yang dimiliki.

Demikian rumusan sementara yang dapat kami rangkum. Perbaikan dan peyempurnaan perlu dilakukan. Terima kasih.-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Saran, Kritikan dan Masukan Anda diperlukan untuk Kemajuan Usaha Ternak Indonesia